Suasana di cilandak mall masih ramai, beberapa teman bikers menikmati santap malam sambil bercanda dan tertawa. Sore ini saya, Budi JZ09EWH dan Rizki jz09HJR sudah siap-siap mau ke puncak sekalian menjemput Ogie JZ09HIA yang sedang ada kegiatan office gathering di Bumi Cisarua. Akhirnya jam 23.30 kita-pun start engine dan mulai menikmati jalan raya di ruas Lenteng Agung, Margonda, Kota kembang, Bogor, Cisarua. Yang paling menyenangkan adalah suasana malam yang sepi .. sehingga speed motor benar-benar bisa kita nikmati di jalanan, memang sewaktu masuk kota Bogor ada razia dari police, biasa lah kelengkapan motor agar sesuai prosedur, karena memang harus di akui accessories motor bikers saat ini sudah menyamai motor police, dari lampu hazard, strobo, sirine, radio komunikasi …jadi idealnya yang kendaraan petugas harus lebih dari itu
Is oke lah itu untuk tujuan safety, karena kebiasaan bikers yang melakukan riding groups memang memiliki resiko kecelakaan cukup tinggi, karena jika rombongan itu terhambat sedikit saja bisa menimbulkan kemacetan, belum lagi jika ada mobil yang menghambat atau pengendara lain yang mencoba masuk kedalam rombongan, maka akan menjadi potensi untuk membuat crash rombongan tersebut. Selama ini masyarakat umum memang selalu menyalahkan kegiatan riding groups, masyarakat belum memahami prioritas hirarki di jalan raya, mana yang harus di dulukan .. mana yang harus di utamakan. Memang jalan raya milik umum, tetapi prioritas hirarki di jalan raya juga wajib diketahui, nah ini lah yang tidak di pelajari oleh kebanyakan pengguna jalan raya.

Bikers yang baik didalam komunitasnya selalu mempelajari safety riding, karena ini menu wajib, sehingga dengan pengetahuannya ia menjadi pengendara yang santun. Beberapa issue yang di ekpose tentang sebutan ‘kearoganan biker" selalu dilontarkan pada sekitar "akibat" tanpa melihat unsur "penyebab" yang mengkibatkan akibat tersebut muncul.
Saya sering memerhatikan bagaimana teman-teman biker yang sedang riding groups memberi tahu pengendara lain untuk memberitahu bahwa mereka akan mendahului, saya juga sering memperhatikan bagaimana teman-teman bikers memperingatkan pengendara lain untuk tidak melakukan zigzag, atau cross lain didepan pengendara lain dengan sembarangan…., hal-hal itu selalu dilaksanakan sesuai dengan operating prosedur. Memang jika peringatan itu ternyata di remehkan kemudian akan mendorong beberapa rekan biker mengambil sikap tegas, hal ini karena untuk menghidari kecelakaan yang dapat mengancam nyawa dari groups riding tersebut, karena riding group berjalan dengan komando dari road kaptain, kapan harus perlahan, kapan harus berhenti, kapan harus memberi tanda bahaya semua menjadi tanggung jawab road captain.
Sepatutnya lah kita bersyukur jika seorang bikers memiliki rasa malu untuk berhenti di belakang garis putih di traffic light, sementara pengendara awam lain dengan arogannya menyerobot kedepan dengan ketidak sabarannya, … Kita bersyukur di setiap riding groups selalu ada evaluasi…, karena bagian dari biker adalah selalu berupaya menjadi smart rider….
Jam 02.30 udara di puncak semakin terasa dingin, setelah menikmati soto sapi pak haji dan segelas Hot tea akhirnya kita kembali ke Jakarta menembus pekatnya embun pagi sambil melatih konsentrasi melibas tikungan puncak. …. brrrrrr dingin sekali, lupa tadi tidak memakai rompi… ugh !
Saya jadi ingat waktu masih di Metro, menjelang azan magrib biasanya di beberapa stasiun radio FM memutar lagu-lagu sahara alias arabic music, enak juga sih sampai-sampai kalau denger music padang pasir begini jadi ingat rumah di kampung 










