Pernah tidak anda melihat orang yang tidak mau antri di jalan raya … main serobot sana-sini dan berhenti didepan garis putih pada traffic light ?, … pernah tidak anda diserobot antriannya pada waktu mau mengisi BBM atau di toilet umum …??

Antri ternyata menjadi budaya yang sulit di negeri ini … kadang pertanyaan itu muncul … merasa bersalahkah mereka saat menyerobot giliran or milik orang lain? Suasana menjelang Idul fitri seperti ini kita bisa melihat bagaimana budaya antri itu rendah …, apalagi musik mudik lebaran… nggak usah dari tempat-tempat umum dulu deh, mulai dari masjid-pun orang cenderung menyepelekan budaya antri, dari ngambil air wudlu sampai keluar masjid rebutan sandal …. duh malu dech !.

antri lho 

Nah … menjadi seorang rider ada positifnya karena etika antri menjadi prioritas utama safety riding, mana yang perlu di dahulukan dan mana yang harus kita dahului. Keberhasilan itu tentu tidak terlihat pada waktu riding groups, hanya saja pada waktu berjalan sendirian pola itu kelihatan membekas. Mudah-mudahan sih … bukan karena di sparkboard belakang ada stiker komunitas/club :) karena seorang rider selalu menjujung tinggi safety ride dan menjadi seorang yang smart rider ….

antri lho 

Di negara mana pun semua orang pasti pernah merasakan yang namanya antri. Dari antri di bank, di tempat pembayaran rekening, di loket rumah sakit, loket kereta api, di kasir supermarket, dsb. Biasanya kalau di tempat-tempat berupa kantor atau fasilitas umum di ruangan tertutup seperti itu orang cenderung tertib mengikuti arus antrian karena sudah ada pembatas yang menandakan jalur antrian. Tapi bagaimana dengan ruang terbuka, seperti di halte bis, peron kereta api ataupun pasar? Selama berpuluh tahun tinggal di Jakarta, di tempat-tempat seperti itu jarang sekali orang antri dengan sabar. Jarang sekali orang masuk bis atau kereta tanpa harus nyeruduk-nyeruduk orang lain, berusaha menjadi yang terdepan supaya dapat kursi atau yang lebih buruk lagi, sekedar tempat berdiri. Selain itu pengemudi bis dan kereta api juga sepertinya tidak cukup sabar jika penumpang naik kendaraan mereka dengan tertib.

Saya ambil contoh di Melbourne, para calon penumpang dengan sendirinya membuat jalur antrian ketika menunggu bis, trem ataupun kereta. Mereka dengan sabar akan menunggu penumpang yang akan turun keluar terlebih dahulu dan biasanya lebih menghormati perempuan untuk melangkah masuk lebih dulu. Walaupun budaya mereka sangat individualistis, umumnya para penumpang yang lebih muda akan memberikan tempat duduk kepada kaum lansia, walaupun di tiap bis, trem dan kereta telah disediakan tempat khusus untuk para lansia dan orang cacat. Bahkan ada peringatan khusus yang mengingatkan penumpang untuk memberikan tempat tersebut kepada yang berhak jika ada. Memperlakukan orang lain dengan sopan, adil dan menghormati budaya antri sepertinya tidak sulit ditumbuhkan. Hanya masalahnya hanya pada adanya kemauan atau tidak dari individu itu sendiri. Mungkin harus dimulai dari diri kita, kemudian keluarga terdekat sehingga akan terwujud masyarakat budaya tertib di Indonesia.

Menyepelekan budaya antri …. hanya akan menambah tragedi demi tragedi … dan menunjukkan kebodohan kita, kejadian di pasuruan hanyalah contoh dari sekian budaya kita yang tidak mau berbudaya antri … sedih juga melihat tragedi pembagian zakat dengan insiden maut yang terjadi di Pasuruan, terlepas dari polemik yang kemudian terjadi, ada satu hal yang menjadi catatan saya yaitu masalah kedisiplinan lebih khusus lagi masalah budaya antri. Kejadian ini tentunya bisa dihindari jika mentalitas budaya antri sudah terpatri dibenak masyarakat kita, desak-desakan, saling serobot yang pada akhirnya mengakibatkan kondisi menjadi kacau saling injak, sesak napas akhirnya korban jiwa pun berjatuhan. Mari kita tingkatkan BUDAYA ANTRI, tanamkan budaya ini sejak dini kepada anak-anak kita.