Jalankanlah hidup ini bagaikan air yang mengalir sebagai hamba Allah. Air mengalir tidak pernah bertanya-tanya kepada Allah mau dikemanakan dirinya? Ia percaya seratus persen Allah akan memberikannya tempat kembali yang terbaik. Air tidak pernah protes ketika suatu saat dalam perjalanannya ia harus terjun ke atas batu keras atau meresap jauh ke dalam bumi tanpa tahu kapan akan melihat matahari kembali. Air tidak pernah mempertanyakan takdirnya.
Tentu kita memang berbeda dengan setitik air. Sebab Allah memberikan kita akal yang membuat kita mampu melihat kebenaran. Tetapi, akal juga mampu menyesatkan, ketika kita terlalu terpaku pada pertanyaan-pertanyaan yang berbahaya. Oleh karena itu, hanya manusia dan jin yang bisa menjadi kafir karena mereka diberi pilihan, beriman atau kafir dan mereka diberi alat untuk menentukan pilihan, yaitu akal dan hati.
Gunakanlah keduanya secara seimbang, jika kita terlalu menggunakan hati, kita tak punya pertimbangan rasional padahal itu adalah pemberian dari Allah juga yang mesti kita manfaatkan. Jika kita terlalu mengandalkan akal maka kita akan disesatkannya karena ia hanya bisa berpikir tentang hal-hal yang masih dalam batas-batas rasio. Padahal, hakikat hidup dan mati bukan hanya sebatas rasio.
Jadilah “Air yang cerdas dan beriman”. Mengikuti aliran hidup ini sambil sesekali mengarahkan jalan kemana akan pergi dengan petunjuk dari Allah.




