Aku masih menanti sang matahari pagi menggeliat dan membuka kelopak matanya
Aku masih menanti kabut tipis berlari bersama butiran embun di ujung ilalang
Aku masih menanti pagi ini kau hujani aku dengan cahayamu
Karena pagi ini ingin kurajut sebuah pelangi untukmu
Dengan warna-warna teduh yang terpancar dari kelembutanmu Merah ..kuning …hijau …biru….ungu …putih ….
Yang ku rajut seperti selendang bidadari
Untuk kau kenakan saat keteguhanku merengkuhmu..
Lihatlah pada birunya langit Pelangi itu terbentang indah hingga ke batas cakrawala
Dan bias rona merahnya menyapu wajah tulusmu
Hingga dalam binar matamu tergambar beningnya sebuah hati
Mungkin aku akan tetap disini menanti malam menyuguhkan mimpi
Dan melihat betapa cantiknya dirimu dengan selendang bidadari itu .. Walaupun aku takut sulaman mimpi itu selalu pergi
Walaupun aku tak mampu memupuskan ragu ini Biarlah aku menunggumu …
dia yang diujung sana
menarikan jarinya
menarikan hatinya
menggenggam janjinya
menunggu sang waktu
untuk bertemu…
Mauku kembali
ke saat cerita kita
dimulai
Mauku balik
di saat hati kita bertaut
dan menyatu
Mauku mengulang kembali
ketika sayang kita ucapkan
Mauku pulang
ke saat peduli masih kita rasakan
Cerita kita telah berakhir
Saat hati kita memutuskan
untuk pergi sendiri
Cerita kita usai sudah
Ketika sayang kita seolah teredam
oleh amarah
Cerita kita telah selesai
sewaktu kita menggantikan peduli kita
dengan ego
Kita telah menutup cerita kita
I’m over you
but why
you keep coming in my life
I’ve erased you from my memory
but why
you keep showing up in every dreams I have
I don’t want to see you again
but why
something always happens
and we always meet
I don’t need to hear your voice again
but why
I keep missing your voice
I don’t want to know anything about you
but why
I know everything about you
I don’t want to have feeling for you
but why
My feeling for you
just won’t go away
Maafkan aku cinta
karena merindukanmu
malam ini
Bukan mauku
kalau hasratku
masih ingin bersamamu
Aku minta maaf, cinta
bila hatiku tetap berisi
tentangmu
Melupakanmu berulang kali kucoba
kutak kuasa menolak
bila hati ini
masih mengingat cinta
Menghapusmu dari jiwa dan ragaku
tlah kulakukan
kenapa cinta masih ada juga
belum pergi
dariku
Maafkan aku cinta
kalau aku
masih cinta
Aku tidak mengharap banyak
Hanya suatu kepastian darimu
Akan kita
Mulutmu tertutup rapat bagai terkunci
Aku tak kuasa membukanya
Walau kutahu akulah kuncinya
Hari demi hari kita bertatapan penuh makna
Tapi kita tak mampu untuk mengucapkan
Apa yang ada di hati kita
Sebegitu sulitkah…..
Aku tidak mengharap banyak
Hanya berikan
Aku kepastian
nggakkk betahhhhhhhhhhhhhhh ….
Ku mengerti tentang dirimu
Tentang sikapmu
Ku tak perlu menatapmu
Atau berbicara denganmu
Walau aku salah menilaimu
Kau tetap akan ada dan selalu ada
di salah satu sudut
Di ruang hatiku
“….Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak disebar.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.”
(Spasi – “Folosofi Kopi” Dewi Lestari)
karena cinta, dunia serasa indah
karena cinta, perdamaian terasa
juga karena cinta, kita bisa hidup
tapi….
apakah karena cinta, yang harus merenggang nyawa
apakah karena cinta, manusia lupa segalanya
apakah karena cinta, perang dimana-mana
cinta…..
ya…karena cinta aku hidup
karena cinta aku tertawa
karena cinta aku menangis
dan…..
karena cinta aku terluka…
Cinta itu tak cukup terlahir dari suatu keakraban, atau karena ketekunanmu dalam melakukan pendekatan, cinta hanya akan tumbuh dalam kecocokan hati … perpaduan unik dari belahan hati yang saling melengkapi, jika kecocokan hati tak pernah ada .. sampai kapanpun jangan harap cinta itu akan terlahir. [kahlil gibran]



